Cerpen oleh Khoer Jurzani
Hujan terus menerus turun dan rel kereta api menjadi licin saat kamu berjalan menyusur bantalan kayu yang biasa kamu lalui. Ini minggu pertama Desember, kamu tetap berangkat ke sekolah meski ibumu yang tengah hamil empat bulan baru saja meninggal dunia, tepatnya gantung diri dua hari lalu.
Kamu adalah remaja berusia dua belas tahun, pagi ini, seperti biasa, kamu berangkat sekolah memakai songkok, seragam putih lengan panjang, celana berwarna biru tua dan ransel hitam di punggung bergambar tokoh kartun Hei Arnold. Saat berjalan melewati derai hujan, kamu tampak seperti orang linglung. Di depanmu, kereta dari arah Cianjur tengah meluncur, tetapi tidak ada seorang pun yang memberitahumu yang tengah berjalan di lintasan kereta api sambil memegang payung.
Suara gemuruh kereta api tak kamu gubris. Kepalamu masih dipenuhi suara-suara yang keluar dari mulut para tetangga, kakek-nenekmu yang datang dari kampung, suara paman dan bibimu, suara teman-temanmu.
“Sekarang aku tidak hanya akan diolok-olok sebagai anak Arab,” ujarmu pada dirimu sendiri. Kamu menyadari bahwa kamu berbeda dengan anak-anak di lingkunganmu. Meski gaya bicaramu tetap terkesan lembut seperti orang Sunda kebanyakan, ramah dan murah senyum, kamu memiliki alis mata dan rambut yang tebal, mata bulat yang tajam dan indah, hidung lancip dan memiliki wajah berbentuk buah pir dengan dagu menonjol, perawakanmu tidak terlalu besar, akan tetapi kamu memiliki kulit seputih lily putih. Saat merasa marah atau sedih, kamu berusaha untuk tidak menunjukkan pada orang-orang, kecuali saat ada yang bilang bahwa kamu anak Arab.
“Aku lahir di sini, di tanah ini meskipun ibuku pernah bekerja di Arab Saudi, lalu kembali ke tanah air ini dalam keadaan mengandung, mengandungku,” ucapmu pada dirimu sendiri setiap kali kamu merasa susah hati dan lelah.
Kereta benar-benar meluncur, pun tubuhmu tiba-tiba meluncur, mendarat di atas rumput-rumput. Sebelum menyadari apa yang terjadi, kamu merasa ada seseorang memelukmu lantas melemparmu. Payung berwarna hijau tua terlepas dari genggaman tanganmu kemudian terpelanting sejauh enam meter, juga songkok hitam yang biasa kamu kenakan. Baju putih panjang, ransel hitam bergambar Hei Arnold, serta celana biru tua milikmu menjadi kotor.
Kamu jatuh cukup keras akan tetapi kamu tidak merasa sakit. Di atas pendaratanmu, di atas rumput-rumput di bawah rindang pohon nangka, kamu mendapati seekor burung pipit yang basah kuyup. Burung pipit tersebut belum bisa terbang, burung pipit yang masih terlampau kecil, kamu berpikir, burung pipit itu tentu terhempas dari sarang oleh angin kencang dan hujan yang menetes dari sela-sela daun-daun nangka.
Kamu menangkap burung pipit kecil yang sedang bingung tersebut menggunakan telapak tangan yang basah. Di bawah hujan yang masih berderai, setelah mengambil kembali payung serta mengenakan kembali songkok hitammu, kamu melangkah menuju rel kereta api membawa burung pipit yang kedinginan kemudian meletakkan burung yang jatuh itu di atas bantalan kayu rel kereta. Kamu merasa kamu tidak perlu repot-repot mengembalikan burung malang tersebut ke sarang, jadi kamu letakkan kembali burung pipit tersebut di bawah pohon nangka. Kamu sebenarnya berharap jika burung pipit tersebut adalah dirimu.
Tidak ada seorang anak pun bertanya perihal seragam sekolahmu yang basah begitu kamu tiba di Madrasah Tsanawiyah.Teman-Teman sekelasmu justru bertanya perihal sikapmu yang tidak mencerminkan anak berbakti.
“Kamu kok nggak nangis sih saat penguburan ibumu. Aku ikut tahu, ke pemakaman,” ujar temanmu. “Pantas saja orang tuamu meninggal, kamu sih nggak peduli sama mereka. Kamu senyum-senyum saja dibilangin kayak gitu, hei!”
Kamu sebenarnya tengah menyeringai, menahan rasa dingin serta kesedihan mendalam saat membayangkan hari, manakala peristiwa itu terjadi.
“Kontrakanku cuma satu di antara deretan rumah kontrakan semi permanen di pinggir rel kereta api itu. Kalian tahu ‘kan,” katamu.
“Pagi ketika ibu kutemukan telah tiada, aku bisa saja teriak biar penghuni kontrakan berbondong-bondong datang,” kamu menceritakan kisah sedih yang kamu alami seperti kamu menceritakan pengalaman biasa saja, bahkan sesekali kamu tersenyum sesekali kamu tertawa. “Cuma, saat melihat tubuh ibu berada dalam posisi tergantung di tembok kamar mandi, aku tak lekas teriak atau menurunkan tubuh ibu, yang pertama kali aku lakukan itu mengelus perut ibu yang mulai membuncit. Di dalam sana ada janin yang telah ditiupkan ruh. Aku berharap aku masih bisa menjadi seorang kakak,” sebelum bercerita lebih jauh, kamu memastikan dulu bahwa temanmu tidak tidur. “Kamu tidak keluar jalan-jalan,” tanyamu, di dalam ruangan kelas tujuh hanya ada kamu dan dua orang temanmu. Selalu seperti itu jika guru tidak masuk, anak-anak lebih senang berada di luar, jajan, lari-lari nggak jelas di aula atau jalan-jalan nggak jelas di bawah guyuran air hujan seperti yang sering kamu lakukan.
Kemarin, atau kemarinnya lagi? Kamu pulang sekolah dan kamu harus mendapati isak tangis ibumu di rumah serta bapak tirimu kabur entah ke mana. Esok paginya, sebelum kamu berangkat sekolah, ibumu meninggal dunia dan esok paginya lagi bapak tirimu meninggal dunia. Dibunuh entah siapa? Bunuh diri?
Pada temanmu, kamu tidak bercerita mengenai peristiwa yang menyebabkan ibumu bunuh diri, sebab kamu merasa toh teman-temanmu sudah tahu peristiwa yang terjadi saat kamu masih berada di sekolah. Saat itu, Tatang, bapak tirimu yang bekerja sebagai pemulung, berniat meminjam uang pada bos rongsok tempat biasa Tatang menjual sampah yang masih layak jual. Entah firasat apa yang membawa Tatang kembali ke rumah. Seorang laki-laki yang sudah sangat Tatang kenal tengah berada di kamar satu-satunya di rumah itu, bersama Titim, istri Tatang, ibumu. Tak ada jeritan atau pekik tangis yang keluar dari bibir ibumu ketika Tatang melayangkan pukulan ke pipi serta perut laki-laki di samping Titim yang tak mengenakan sehelai benang pun. Titim bergeming saat Tatang berteriak tentang perasaan Titim pada laki-laki yang kini sudah berada di kantor polisi, tentang berapa lama mereka berdua menjalin hubungan, dan siapa bapak dari janin yang kini tengah dikandung.
“Bapakku pergi dari rumah yang sudah dikontrak sejak sepuluh tahun lalu. Tentu kalian tahu, di tempat kita, berita apa sih yang tak menyebar. Keesokan paginya, aku menemukan ibu sudah tak bernyawa, gantung diri di kamar mandi, dan keesokan paginya lagi, aku mendengar kabar bahwa bapakku katanya sengaja menabrakan diri ke arah kereta api yang tengah melaju.”
Teman-temanmu tampaknya tidak peduli. Mereka sibuk dengan ponsel mereka.
“Bukankah bapakmu di Arab,” begitu santainya temanmu berkata. Mengatakan kata-kata yang demikian sensitif bagimu.
Ransel hitam bergambar Hei Arnold milikmu yang sedari tadi berada di atas meja seketika langsung berpindah tempat ke wajah temanmu.
Sukabumi, 2019